All 'bout Metal Music 'n Life

KIM SI PELOPOR SOUNDGARDEN


Kelahiran Soundgarden tidak bisa lepas dari peran nama Kim Thayil dan Hiro Yamamoto. Karena sebenarnya dua orang inilah yang membuka lembaran pertama. Mereka sudah lama saling bertemu. Tepatnya saat sama-sama bersekolah di salah satu SMA di Reach East. mereka juga menempati rumah yang sama di Park Forest, Illinois.

Persahabatan Kim dan Yamamoto di rekat oleh kegemaran yang sama: bermain gitar. Dari situlah munculnya ide untuk membuat sebuah band. Yah, band lokal gitu. Sebatas menyalurkan hobi.

Selepas SMA Kim dan Yamamoto memutuskan melanjutkan sekolah mereka ke Evergreen State College. Tentu saja, sementara itu hobi genjreng-genjreng jalan terus. Sampai akhirnya semangat bermusik mereka mulai buyar gara-gara kesulitan embagi waktu dengan kuliah. Kim melanjutkan pendidikannya di fakultas filsafat, universitas Washington. Kedua sohib itu akhirnya berpencar.

Ditempat baru Kim sekamar dengan Matt Dentino, yang juga doyan musik. Maka, hobinya pun kumat lagi.  Dia berpikir gimana kalau bikin band baru? Setelah Dentino menyambut gagasan Kim, Hiro Yamamoto segera di kontak. Bertiga mereka segera membentuk kelompok The Shemps. Tapi, nama ini segera menguap ketika muncul seorang pemain drum berumur 19 tahun, Chris Cornell namanya.

“Ketika pertama kali bertemu Chris, kesan pertamanya tuh orang kayak jebolan angkatan laut. Rambutnya cepak, dan kelihatan macho banget. Tapi dia punya suara yang bagus.” Kata Kim mengenang saat pertemuannya dengan Chris Cornell. Setelah merasa cocok satu sama lain, pada 1984, berdirilah sebuah grup baru: Soundgarden!

Untuk penampilan di panggung, saat itu mereka masih membawakan lagu-lagu dari sejumlah grup terkenal. Sebut saja The Doors, Jimi Hendrix, Otis Redding atau Buddy Holly. Walaupun begitu, Dentino masih sempat menulis lagu sendiri, Marilyn Monroe, mudah di tebak kan? Judul ini dibuat gara-gara Dentino terkagum kagum pada bintang sexy tersebut.

Ketika selesai membuat album Deep Six, Kim dan Yamamoto mulai melirik drumer Skin Yard, Matt Cameron. Mungkin kaarena di otak-atik oleh Kim dan Yamamoto, belakangan Cameron hengkang dari grup yang sudah membesarkannya itu. Tapi, ini mungkin lho!

Sebelum Matt Cameron datang, ada nama lain yang sempat memperkuat formasi Soundgarden, namanya Scott Sundquist. Scott di tarik karena Chris Cornell lebih konsentrasi ngurusin vokal. Tapi gebukan Sundquist cuma sampai album Deep Six tadi. Yakni lewat lagu Heretic dan All Your Lies.

Masuknya Matt Cameron tentu saja memberi suasana baru bagi Soundgarden. Paling tidak, mereka terpacu untuk bekerja lebih keras. Dan wujud dari semangat tinggi itu adalah lahirnya album Screaming Of Life pada 1987. Setahun kemudian album Fopp dilepasnya pula.

Kali ini Soundgarden banyak memasukkan unsur Funk Metal. Mereka juga menerima pengaruh para pemusik Ohio. Akibatnya, Soundgarden banyak yang menuding telah berkhianat dari konsep musiknya semula.

Tapi komentar-komentar miring itu segera di bungkam pada saat perusahaan rekaman A&M menawarkan kerja sama. Kim dan teman-temannya bak mendapatkan momentum untuk mencuatkan citra kelompoknya, bahwa bermusik adalah sebuah kebebasan! Dan kebebasan itu telah melahirkan warna musik yang khas Soundgarden, lewat Ultra-mega, OK. Meskipun secara pasar hasilnya tak terlalu memuaskan, toh, sebuah jalan terkuak sudah.

Dan pembenahan yang di lakukan Soundgarden memang gak berhenti sampai disitu. Pada album Louder Than Love, 1989, segi artistik musiknya mendapat prioritas utama. Hasilnya? mereka berhasil meraih nominasi piala Grammy. simbol paling prestisius di blantika musik! Meski gak menang, lagu-lagu Soundgarden mulai melakukan pendakian dari tangga satu ke tangga yang lebih tinggi.

Sayang, sukses yang menjanjikan ini tak mampu mempertahankan gairah bermusik Hiro Yamamoto. Ia memilih untuk meneruskan sekolah ketimbang bergelut di dunia musik. Soundgarden kemudian menarik Ben Shepard, seorang pemain Bass yang kalem. Bahkan terlalu kalem jika dibandingkan dengan Kim, Chris ataupun Matt yang enerjik dalam bekerja.

“Aku tak punya ambisi untuk Soundgarden. Aku hanya mengikuti saja apa yang akan terjadi,” katanya. Meski begitu ia seorang yang berpikiran realistis. Termasuk dalam menulis lagu.

“Aku menulis lagu berdasarkan kenyataan di sekeliling. Seperti yang terjadi pada lagu Half. Lagu itu ditulis ketika mengajarkan sesuatu pada seseorang.” Sedang Matt Cameron punya cerita lagi.

“Lagu-lagu yang kutulis buat rekaman, semua di buat di rumah. Pada dasarnya hanya memadukan Riff gitar dengan lirik, kemudian aku coba seperti lagu Fresh Tendrils, kutulis lagu dan liriknya sekaligus vokalnya. Ketika ku sodorkan ke Chris ternyata ia setuju. Dan itulah pertama kalinya aku menyumbang lagu untuk Soundgarden. Rasanya sangat menyenangkan.”

Iklan

9 responses

  1. Ping-balik: searscard

  2. Ping-balik: Scrapebox Server

  3. Ping-balik: Scrapebox

  4. Ping-balik: chase online

  5. Ping-balik: SEO

  6. Ping-balik: suchmaschinenoptimierung österreich

  7. Ping-balik: SEO

  8. Ping-balik: Online Marketing

  9. Ping-balik: website suchmaschinenoptimierung